Pemilihan Pasangan dan Pembentukan Keluarga

Kategori: 
Topik: 
“Dia cocok gak ya sama aku?”
“Apa aku siap?”
“Bagaimana nanti?”

Seringkali pertanyaan itu muncul, khususnya pada mereka yang 
berulang kali jatuh bangun dalam mencari pasangan yang cocok 
atau bahkan yang telah menikah. Proses pembentukan keluarga
umumnya dimulai melalui perkenalan dimana pasangan mencari 
kecocokan satu sama lain. Pasangan biasanya mengembangkan
interaksi, berbagi minat dan kegiatan bersama serta mengembangkan
kelekatan secara fisik dan emosional. Pada masyarakat Amerika,
budaya ini dikenal dengan nama dating (Bird & Melville, 1994) atau
akrab disebut sebagai pacaran. 

Proses ini biasanya dimulai ketika mereka mulai memasuki masa
usia dewasa muda, yaitu usia 20-an hingga 30-an. Hal ini merupakan
suatu tugas perkembangan di masa ini untuk menjalin suatu keintiman,
mengembangkan kehidupan yang produktif dan prokreatif, bahkan 
menikah dan membentuk keluarga (Erikson dalam Monte & Sollod, 2003).

Pada masyarakat yang memegang kuat nilai-nilai keislaman biasanya 
tidak memilih pasangan melalui pacaran. Nilai pernikahan dalam Islam
sebagai ibadah dan ikatan perjanjian yang kuat di mata Allah menjadikan
Islam membatasi tata cara pergaulan antara laki-laki dan perempuan
sebelum menikah. Islam melarang pacaran karena akan mendekatkan
seseorang kepada hal yang diharamkan Allah sebelum menikah seperti
berduaan, melakukan kontak fisik, menumbuhkan perasaan cinta atau
emosional dengan yang bukan mahram, yang semuanya dapat berakibat
buruk kepada orang itu sendiri (Al-Makassari, 2007). 

Pacaran tidak dilakukan, maka pencarian pasangan biasanya dilakukan
melalui ta’aruf dimana seseorang dibantu oleh orang lain atau lembaga
yang dapat dipercaya sebagai perantara untuk memilih pasangan sesuai
dengan kriteria yang diinginkan sebagai proses awal menuju pernikahan. 
Proses ini dilakukan tanpa interaksi yang intensif antara pasangan dan 
tidak mengembangkan kelekatan fisik dan emosional sebelum benar-benar
masuk ke dalam ikatan pernikahan. Proses ini cenderung berlangsung 
singkat dan dijalani tanpa diketahui banyak orang (Abdullah dalam 
Kusumastuti, 2006). 

Pemilihan pasangan dilakukan dengan menilai berbagai macam hal untuk
mendapatkan persamaan atau kecocokan. Sebagian besar orang cenderung
memilih pasangan yang tidak jauh berbeda usia, pendidikan, agama, kelas
sosial, kesukuan, dan sebagainya. Berdasarkan Stimulus-Value-Role Theory
(Murstein dalam Bird & Melville, 1994), seseorang biasanya pertama kali 
tertarik pada calon pasangan melalui penampilan fisik, kedudukan sosial, 
reputasi, cara berpakaian, dan sebagainya. Kemudian ia mulai mencari 
kecocokan dalam hal nilai dan sikap terhadap agama, keyakinan, politik,
pendidikan, prestasi, isu lingkungan, dan sebagainya. Semakin banyak 
ketidaksamaan yang ditemui, semakin mungkin hubungan tidak berlanjut. 
Selanjutnya seseorang akan mengevaluasi kecocokan dalam hal peran 
lawan jenis sebagai pasangan, apakah tipe orang yang mendukung, 
bertanggung jawab dan sebagainya. Penilaian ini biasanya didasarkan
pada harapan dan nilai-nilai seseorang terhadap tipe pasangan dan 
hubungan pernikahan yang diinginkan. 

Menurut Exchange Theory, pemilihan pasangan juga dapat berlangsung
dengan menilai seberapa besar keunggulan dan seberapa kecil kekurangan
yang ada pada pasangan dan hubungan yang akan dibina. Enam hal yang 
biasanya dinilai adalah kasih sayang, status, informasi, uang, harta, dan 
sikap melayani. Semakin besar keunggulan atau kebaikan yang dapat 
diperoleh, semakin besar kemungkinan hubungannya berlanjut. Hubungan
yang setara biasanya lebih cenderung stabil dan bertahan sepanjang waktu
(Foa & Foa dalam Bird & Melville, 1994). 

Interpersonal Process Theory selain menerima dua teori di atas, mengatakan
bahwa proses interaksi yang dilalui dan keterbukaan pasangan juga penting
dalam pemilihan pasangan (Cate & Lloyd, dalam Bird & Melville, 1994). 

Pasangan yang sudah siap berkomitmen biasanya menikah dan memasuki
perkembangan hubungan sebagai suatu keluarga. Ada empat fase umum
perkembangan keluarga (Bird & Melville, 1994), yaitu:

a. Newlywed marriage (Masa Pengantin Baru)
Tahap ini ditandai sejak awal pernikahan hingga lahirnya anak. Pada tahap 
ini pasangan melakukan penyesuaian diri. Mereka menerima identitas peran
sebagai suami dan istri sambil berusaha mengatasi perbedaan asumsi 
pernikahan yang mereka miliki masing-masing (role taking). Pasangan 
juga secara aktif membentuk peran pernikahan berdasarkan nilai, kebutuhan,
dan tujuan pribadi (role making). Mereka mengkomunikasikan harapan dan 
menegosiasikan strategi untuk mengatasi perbedaan yang ada. Mereka juga
mengembangkan pola kelekatan seksual dan emosional, menentukan 
keseimbangan antara pernikahan dan tanggung jawab pekerjaan, serta
membentuk ikatan baru dengan teman dan keluarga pasangan. Pada tahap
ini, perceraian cenderung mudah terjadi bila pasangan cepat sekali 
menemukan ketidakmampuan role-making. Pasangan yang berhasil melewati 
masa ini biasanya belajar untuk mentoleransi ketidaksempurnaan pasangan
mereka dan berkomitmen untuk terus menikah dan mengatasi masalah mereka
sebagai pasangan. 

b. Parental marriage (Masa menjadi orang tua)
Tahap ini dimulai sejak anak pertama lahir. Kelahiran anak pertama secara umum
membuat tanggung jawab peran primer dan kepuasan pernikahan berubah seketika.
Wanita umumnya mengalami ketidakpuasan pernikahan yang lebih besar 
dibandingkan pria karena tanggung jawabnya yang lebih besar untuk pengasuhan. 
Meskipun demikian, peran baru sebagai orang tua dapat menumbuhkan perasaan
kedekatan pada pasangan. Hal-hal yang perlu dilakukan oleh pasangan pada masa 
ini agar dapat mempertahankan kelekatan dan kepuasan pernikahan menurut 
Carolyn Cowan dan Philip Cowan (dalam Bird & Melville, 1994) antara lain: saling
membicarakan harapan dan kecemasan mengenai gambaran ideal keluarga yang
diinginkan; masalah atau isu-isu yang muncul secara reguler dan pada waktu yang
tenang dan tepat; membuat rencana waktu bersama secara rutin tiap minggu; 
menganggap masalah sebagai sesuatu yang normal dan dapat dinegosiasikan;
menemukan cara-cara untuk mengekspresikan cinta dan kelekatan ketika frekuensi
kontak seksual menurun; mengalokasikan waktu untuk kebutuhan personal dan sosial.

c. Mid-life marriage (Periode pernikahan jangka menengah)
Tahap ini biasa disebut juga dengan periode empty-nest dimana anak-anak melalui
masa remaja hingga meninggalkan rumah. Pasangan biasanya mengalami dilema 
antara kebutuhan anak akan otonomi dari orang tua dengan kebutuhan orang tua 
yang mulai memasuki usia lanjut. Hal ini dapat mengakibatkan pasangan mengalami
stres. Pasangan akan menghadapi masa kekosongan ini dalam periode yang lebih 
lama yang dapat menjadi masalah baru atau malah memberikan kesempatan untuk
memperbarui rasa kebebasan dan keintiman.

d. Later-life marriage (Pernikahan jangka panjang)
Tahap ini terjadi ketika pasangan mulai memasuki masa usia pensiun hingga 
meninggalnya salah satu pasangan. Mereka biasanya memiliki ikatan yang khusus 
karena telah bersama sekian lama, menghadapi berbagai peristiwa dan transisi kehidupan,
serta mengembangkan cara berkomunikasi dan mengatasi stres yang unik sehingga
menganggap pernikahan mereka memberikan pendampingan dan dukungan emosional
yang besar. Pria biasanya menikah kembali ketika pasangannya meninggal sementara
wanita lebih banyak memilih hidup sendiri. 

Sumber Acuan
Adhim, M.F. (2009). Kupinang engkau dengan hamdalah. Yogyakarta: Mitra Pustaka.
Al-Makassari, A.A.M. (2007). Problema Anda: Ta’aruf Syar’i, Solusi Pengganti Pacaran. 
       15 Oktober 2010 (Versi elektronik)
Bird, G. & Melville, K. (1994). Families and intimate relationships. New York: 
       McGraw-Hill,Inc.
Kusumastuti, D. (2006). Kepuasan pernikahan pada pria dan wanita yang menikah 
       melalui proses ta’aruf. Fakultas Psikologi UI Depok: Skripsi S1 tidak dipublikasikan.
Monte, C.F. & Sollod, R.N. (2003). Beneath the mask: An introduction to theories 
       of personalities (7th Ed.). New Jersey: John Wiley & Sons, Inc.

Artikel terkait:

Kirim komentar

Filtered HTML

  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.